Minggu, 02 Agustus 2020

" Darres Si Pisau Merah "

Karya : Bayu Wisono / Elang Langit Biru Kebebasan

Kota siwungan saat ini di gemparkan dengan banyak pembunuhan misterius. Korbannya kebanyakan para preman. Polisi pun masih kesulitan memecahkan kasus tersebut. Di TKP hanya tersisa beberapa pisau berbentuk aneh seperti api berwarna merah yang menancap di kepala korbannya.

***

Selain preman, orang-orang bertato pun juga banyak yang menjadi korban pisau merah.
Darno pun penasaran dengan kejadian itu. Dia mengajak suteja untuk memancing pelaku pembunuhan itu. Darno menyuruh suteja untuk membuat tato palsu di lengannya. 

***

Tengah malam pun tiba, seperti biasa, darno menyamar di balik masker tengkorak dan jaket hitamnya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Mereka berdua pun berangkat menyusuri jalan yang sepi di tengah malam itu untuk mengakhiri teror pisau merah.

***

Darno dan suteja sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba di depan mereka ada seseorang yang menghadang dan langsung melemparkan pisau. Darno pun langsung menyalurkan atmosfer hijaunya ke suteja. Dan pisau itu pun menembus kepala mereka. Tetapi berkat kemampuan darno, mereka berdua selamat. 

***

Si pisau merah heran dengan apa yang terjadi, karena sampai saat ini lemparan pisaunya tidak ada yang meleset, dan korbannya langsung tewas di tempat. Darno menyuruh suteja berlari dan sembunyi di balik pohon. 

***

Si pisau merah kembali menyerang dengan pisau peledaknya. Tapi darno segera masuk menembus tanah. Pisau itu menancap di tanah dan terjadi ledakan. Saat si pisau merah lengah, darno segera menarik kakinya menembus kedalam tanah sampai tersisa kepalanya saja dan tak bisa bergerak. 

***

Suteja segera memanggil polisi untuk menangkap si pisau merah itu. Akhirnya pelaku pembunuhan terhadap banyak preman itu terungkap juga. Tiga hari berlalu, setelah di tangkap dan di introgasi, polisi bercerita kepada darno dan suteja. 

***

Si pisau merah itu bernama darrestian pemilik home industri rumahan pembuatan pisau dapur di kota siwungan. Suatu hari di malam yang sepi dia bersama pacarnya melewati jalan yang sepi di kota siwungan. Tetapi mereka berdua di cegat segerombolan preman. Darres di hajar sampai babak beluk dan pacarnya di perkosa sampai tewas. 

***

Saat itu polisi tidak bisa menangkap para pelakunya, karena mereka melarikan diri keluar pulau. Darres pun menjadi psikopat sejak kehilangan pacarnya. Dia memproduksi banyak pisau merah aneh berbentuk api untuk membunuh para preman di malam hari. Dia sering mencegat para preman di jalanan tempat dulu pacarnya di perkosa. Sampai akhirnya darno berhasil menghentikannya.

Bersambung...

" Menembus Penjara "

Karya : Bayu Wisono / Elang Langit Biru Kebebasan

Malam itu setelah selesai pertunjukan sulap, darno bersama suteja membereskan semua properti sulapnya, di naikkan ke mobil pick up. Suasana sudah sepi malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tanpa sadar ada orang asing yang menitipkan sebuah tas kecil kepada suteja. Katanya orang itu mau kencing sebentar di belakang semak-semak lapangan. Suteja pun menerima tas itu. 

***

Di tungguin orang itu tidak nongol-nongol juga, suteja jadi bingung. Darno berkata nungguin siapa sih kita, ayo pulang sudah malam nih, Suteja menjawab nungguin yang punya tas ini lama bener nggak balik-balik. Dari kejauhan terlihat dua orang berjaket hitam berlari menghampiri darno dan suteja. Kedua orang itu menyuruh darno dan suteja angkat tangan sambil menodongkan pistol, setelah itu menggeledah seluruh barang termasuk tas yang di titipkan ke suteja tadi. Kedua orang akhirnya mengaku sebagai polisi yang menyamar mengejar pengedar narkoba. Suteja pun tidak bisa apa-apa karena tas yang di bawanya berisi narkoba jenis ekstasi. Kedua orang itu memborgol dan membawa suteja ke kantor polisi setempat.

***

Malam itu darno pulang sendiri dan menghubungi bapaknya suteja. Karena kejadian buruk telah menimpa anaknya. Besok paginya darno dan bapaknya suteja menjenguk suteja di penjara. Kata polisi suteja harus di penjara sampai dia menjalani tes dan terbukti tidak bersalah. 

***

Sebulan pun telah berlalu, bapaknya suteja sering sedih saat pulang menjenguk anaknya di penjara. Beliau bercerita kepada darno kalau di penjara suteja sering di pukuli preman-preman yang satu sel dengannya. Wajahnya babak belur dan tampak kurus. Beliau hanya bisa berdoa agar anaknya diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian ini. 

***

Mendengar hal itu darno sedih bercampur marah. Tengah malam nanti darno berniat menembus penjara untuk menjenguk suteja dan menghajar preman-preman disana. Saat tengah malam tiba darno mulai bersiap, tak lupa dia memakai masker tengkorak dan juga jaket untuk menutupi identitasnya. Tak pula juga dia membawa rantang berisi soto ayam dan nasi untuk makan suteja disana.

***

Darno pun berangkat menuju penjara kota siwungan. Jarak penjara dari rumah darno cukup dekat juga sekitar 100 meter an. Tapi harus melewati sebuah kuburan angker. Darno pun berjalan menembus tembok melewati kuburan itu agar lebih cepat sampai ke penjara. Saat melewati kuburan darno bertemu jin berwujud pocong yang bersandar di salah satu pohon besar. Darno pun tetap berjalan tidak menghiraukannya.  

***

Sesampai di belakang penjara darno langsung menembus temboknya dan menuju lokasi sel suteja. Dilihatnya suteja di pukuli para napi-napi preman itu. Darno segera menembus jeruji besi itu. Para napi preman itu heran dengan kedatangan orang asing yang tubuhnya menyala hijau. 

***

Mereka pun langsung menyerang darno. Tetapi usaha mereka sia-sia, sampai bingung dan kelelahan giliran darno untuk menyerang balik. Di hantamnya wajah napi preman itu satu per satu sampai tersungkur. Ada salah satu napi yang di tenggelamkan darno ke dalam lantai sel hingga tersisa kepalanya saja. 

***

Akhirnya para napi preman itu meminta ampun dan meminta maaf kepada darno dan suteja. Setelah itu darno menyuruh suteja makan dulu. Suteja pun bisa tenang sekarang. Tidak jadi bulan-bulanan napi preman lagi. 

***

Tiga bulan sudah berlalu, polisi memutuskan bahwa suteja tidak bersalah dan meminta maaf karena mereka salah tangkap. Akhirnya suteja pun bebas menghirup udara bebas dan bekerja lagi melanjutkan pertunjukan sulap bersama darno.

Bersambung...

" Darno Magic Show "

Karya : Bayu Wisono / Elang Langit Biru Kebebasan

Jaman sekarang memang susah mencari kerja, itu yang di rasa kan darno saat ini. Penghasilannya tidak tetap, hanya mengandalkan pekerjaan sebagai kuli bangunan yang tidak pasti. Saat malam hari yang sunyi darno duduk bersantai di depan teras sambil memandang bintang di langit. Terlintas sebuah ide gila untuk memanfaatkan keahlian baru nya agar menghasilkan uang yang halal. Dengan kemampuan baru nya menembus benda-benda padat darno berencana membuka pertunjukan sulap. Tapi dia juga tidak bisa kalau sendirian, harus ada partner yang menemani. Akhirnya darno mengajak teman kuli seperjuangannya, nama nya suteja. Orangnya tinggi besar melebihi darno, tapi suteja ini baik orangnya. Bisa di bilang sahabat dekat darno.

***

Rencana pertunjukan sulap ala darno pun di mulai. Dengan properti sulap seadanya dari triplek bekas bangunan yang di cat ulang, dan di bentuk seperti peti kotak. Pertunjukan sulap itu berada di sebuah lapangan kosong yang di sewa darno. Berbekal speaker butut seadanya suteja berkoar-koar mengumpulkan orang-orang. Setelah itu sulap pun di mulai.

***

Darno masuk peti kayu tertutup, kemudian suteja menusuk kan banyak pedang ke peti itu. Dengan kemampuan darno sulap berjalan meriah. Orang-orang pada heran, kok bisa ya darno masih selamat. Padahal itu berkat kemampuan mutan yang diberikan Allah SWT pada darno. 

***

Suteja berkeliling membawa kardus menghampiri orang-orang untuk menarik ongkos pertunjukan sulap. Hasilnya lumayan banyak. Ada 10 juta an hasil dari pertunjukan semalam ini. Di bagi dua, terus untuk sewa lapangan, mobil pickup dll. Cukuplah untuk bertahan hidup di kota shiwungan ini.

Bersambung...

" Mutasi Genetika "

Karya : Bayu Wisono / Elang Langit Biru Kebebasan

Ternyata mutasi genetika tidak hanya terjadi pada orang-orang barat saja. Di asia tenggara pun ada, di negara indonesia ini, tepatnya di kota shiwungan. Kisah ini menceritakan seorang pemuda yang menemui kemampuan aneh pada dirinya pada umur 28 tahun. Pemuda itu bernama Darno Puntodewo. Seorang kuli bangunan yang tidak tetap. Berawal dari pulang kerja, tapi kunci rumah di bawa orang tuanya. Orang tuanya bekerja buruh serabutan dan pulangnya sore-sore. 

***

Rasa haus dan lapar yang tak tertahankan, membuat darno ingin mencongkel gembok pintu rumahnya. Tapi tidak ada alat untuk melakukannya. Saat menyentuh pintu tubuh darno mengeluarkan cahaya atmosfer berwarna hijau yg menyelimuti tubuhnya. Tangannya yang sudah menyentuh pintu jadi tertembus ke dalam. Dengan rasa heran dan penasaran darno mencoba menembus pintu rumahnya dan berhasil.

***

Dalam hatinya dia bingung dengan apa yang terjadi, tapi itu kenyataan. Dia punya kemampuan khusus yang tidak di miliki orang-orang normal lain. Dia mulai melatih dan mengendalikan kekuatannya itu.  Untuk tujuan yang bermanfaat.

Bersambung...