Karya : Bayu Wisono / Elang Langit Biru Kebebasan
Malam itu setelah selesai pertunjukan sulap, darno bersama suteja membereskan semua properti sulapnya, di naikkan ke mobil pick up. Suasana sudah sepi malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tanpa sadar ada orang asing yang menitipkan sebuah tas kecil kepada suteja. Katanya orang itu mau kencing sebentar di belakang semak-semak lapangan. Suteja pun menerima tas itu.
***
Di tungguin orang itu tidak nongol-nongol juga, suteja jadi bingung. Darno berkata nungguin siapa sih kita, ayo pulang sudah malam nih, Suteja menjawab nungguin yang punya tas ini lama bener nggak balik-balik. Dari kejauhan terlihat dua orang berjaket hitam berlari menghampiri darno dan suteja. Kedua orang itu menyuruh darno dan suteja angkat tangan sambil menodongkan pistol, setelah itu menggeledah seluruh barang termasuk tas yang di titipkan ke suteja tadi. Kedua orang akhirnya mengaku sebagai polisi yang menyamar mengejar pengedar narkoba. Suteja pun tidak bisa apa-apa karena tas yang di bawanya berisi narkoba jenis ekstasi. Kedua orang itu memborgol dan membawa suteja ke kantor polisi setempat.
***
Malam itu darno pulang sendiri dan menghubungi bapaknya suteja. Karena kejadian buruk telah menimpa anaknya. Besok paginya darno dan bapaknya suteja menjenguk suteja di penjara. Kata polisi suteja harus di penjara sampai dia menjalani tes dan terbukti tidak bersalah.
***
Sebulan pun telah berlalu, bapaknya suteja sering sedih saat pulang menjenguk anaknya di penjara. Beliau bercerita kepada darno kalau di penjara suteja sering di pukuli preman-preman yang satu sel dengannya. Wajahnya babak belur dan tampak kurus. Beliau hanya bisa berdoa agar anaknya diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian ini.
***
Mendengar hal itu darno sedih bercampur marah. Tengah malam nanti darno berniat menembus penjara untuk menjenguk suteja dan menghajar preman-preman disana. Saat tengah malam tiba darno mulai bersiap, tak lupa dia memakai masker tengkorak dan juga jaket untuk menutupi identitasnya. Tak pula juga dia membawa rantang berisi soto ayam dan nasi untuk makan suteja disana.
***
Darno pun berangkat menuju penjara kota siwungan. Jarak penjara dari rumah darno cukup dekat juga sekitar 100 meter an. Tapi harus melewati sebuah kuburan angker. Darno pun berjalan menembus tembok melewati kuburan itu agar lebih cepat sampai ke penjara. Saat melewati kuburan darno bertemu jin berwujud pocong yang bersandar di salah satu pohon besar. Darno pun tetap berjalan tidak menghiraukannya.
***
Sesampai di belakang penjara darno langsung menembus temboknya dan menuju lokasi sel suteja. Dilihatnya suteja di pukuli para napi-napi preman itu. Darno segera menembus jeruji besi itu. Para napi preman itu heran dengan kedatangan orang asing yang tubuhnya menyala hijau.
***
Mereka pun langsung menyerang darno. Tetapi usaha mereka sia-sia, sampai bingung dan kelelahan giliran darno untuk menyerang balik. Di hantamnya wajah napi preman itu satu per satu sampai tersungkur. Ada salah satu napi yang di tenggelamkan darno ke dalam lantai sel hingga tersisa kepalanya saja.
***
Akhirnya para napi preman itu meminta ampun dan meminta maaf kepada darno dan suteja. Setelah itu darno menyuruh suteja makan dulu. Suteja pun bisa tenang sekarang. Tidak jadi bulan-bulanan napi preman lagi.
***
Tiga bulan sudah berlalu, polisi memutuskan bahwa suteja tidak bersalah dan meminta maaf karena mereka salah tangkap. Akhirnya suteja pun bebas menghirup udara bebas dan bekerja lagi melanjutkan pertunjukan sulap bersama darno.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar